TEORITIS SOSIOLOGI POLITIK

TEORITIS  SOSIOLOGI POLITIK
Berikut ini akan dipaparkan beberapa teoritis yang memelopori munculnya gerakan empiris, yang sebagai embrio lahirnya disiplin sosiologi politik , seperti  Weber, Marx dan Durkheim dari jerman serta varetodari italia. Namun di bandingkan Weber, Durkhein dan Marx dengan Pareto, orang akan lebih mengenal ketiga ahli tersebut dibandingkan pareto, tetapi perlu disadari bahwa pareto sebenarnya ahli yang pertama menyumbang gagasan teori elit.
Weber, Durkheim dan Marx merupakan teoritisi social klasik yang memulai karirnya sekitar abad 18 dan 19, dan mereka dikenal sebagai teoritisi sosiologi jerman. Sementara pareto meskipun memulai karirnya pada abad 18 dan 19 juga, tetapi termasuk dalam kumpulan teoritisi sosiologi italia.
Selain itu tokoh yang  juga termasuk dalam pendahulu sosiologi dan cukup berpengaruh teorinya sampai sekarang yaitu alexis D Tocqueville. Walaupun tokoh ini tidak sepopuler  tokoh sosiologi diatas, namun dalam konteks sivil society, alexis sering dijadikan acuan. Kemudian dalam aliran peta sosiologi alexis D Tocqueville termasuk sebagai sosiologi aliran prancis.

Max Weber (1864-1920)
Max Weber lahir di Erfurt pafa tahun 1864. Dan meninggal pada tahun 1920. Iya berasal dari kelas atas, ayahnya selama beberapa tahun menjadi anggota Reichstag jerman.  Studi weber mengenai otoritas politik sangat menarik perhatian pelanggan yang mengkaji masalah pemerintahan. Tidak sebagaimana filosof social klasik, weber hanya menaruh perhatian terhadap cara bagaimana kekuasaan berfungsi dalam masyarakat dan bukan dengan legitimasi moral. Teori weber mengenai otoritas politik ini dikenal dengan sebutan tipe tipe ideal. Menurut giddens (1986), weber membedakan 3 jenis tipe ideal dari keabsahan, yagn bisa meletakan suatu pola hubungan dominasi : tranisional, harismatik dan hokum( legal rasional).
Charisman oleh weber , didefinisikan sebagai suatu sifat tertentu dari suatu kepridian individu berdasarkan mana orang itu dianggap luar biasa dan diperlakukan sebagai  seseorang yang mempunyai sifat sifat gaib/sifat sifat unggul atau paling sedikit dengan kekuatan keuatan yank has dan luar biasa. Oleh karenanya, seseorang pribadi berkarisma  adalah seorang terhadap siapa orang percaya bahwa dia itu mempunyai kemampuan aneh yang sangat mengesan kan yang seringkali dipikirkan dari suatu jenis gaib, yagn membuat dia terpisah dari yang biasa. Apakah seseorang betul betul mempunyai salah satu atau semua cirri khas yang dianggap sebagia pelengkapannya oleh para pengikutnya, tidakkah menjadi soal ; yang penting dan menjadi masalah, adalah ada sifat sifat luar biasa yang dianggap oleh orang lain sebagai atribut dari orang itu. Dominasi karisma bisa timbul dalam konteks social atau sejarah yagn sangat beraneka ragam, dan oleh karenanya tokoh tokoh karisma berjejeran dari mulai pemimpin pemimpim politik yang tindakan tindakannya  telah memepengaruhi perkembangan seluruh peradaban sampai kesekian banyak jenis pemimpin kecil yang pintar berpidato di semua lapisan kehidupan, yang telah memperoleh kepercayaan dari pengikutnya (Giddens 1986).

Karl Marx (1818-1883)
Bagi mark adalah suatu proses penciptaan dan penguasan serta penciptaan ulang dari kebutuhan kebutuhan manusia yang terus menerus inilah yang membedakan manusia dari binatang yang kebutuhannya telah pasti, tetapi dan tidak berubah. Inilah yang menyebabkan mengapa kerja, yaitu antar perubahan kreatif antara kehidupan manusia dan alamnya, merupakan landasan dari  masyarakat manusia. Hubungan antara individu dengan lingkungan materialnya ditengahi oleh cita cita khas tertentu dalam masyarakat, dimana orang menjadi anggotanya (Giddens, 1986).
Teori Marx yang dikenal adalah materialism dialektika (dialektika materialis dalam perkembangan peradaban sejarah). Bahwa terjadinya pengeksploitasian dan pengalienasian oleh kelas kapitalis terletak pada penerapan materialisme dialektika. Materialisme dialektika menggambarkan proses perubahan dimasyarakat berdasarkan tiga fase. Fase pertama, disebut tesis yang menggambarkan suatu keadaan  tertentu. Fase kedua, disebut anti tesis, yang menggambarkan suatu kondisi pertentangan atau pengingkaran terhadap kondisi tertentu tersebut. Fase ketiga, disebut sintesis yang menggambarkan suatu kondisi akhir dari pertentangan dan pengingkaran tersebut.
Metarialisme oleh Marx diartikan dengan alat alat, sarana sarana yang digunakan dalam mengorganisasikan diri untuk mempertahankan keidupannya. Metarialisme dialektika ini, kemudian dalam teori materialisme dialektika ini marx memperkenalkan beberapa konsep konse, seperti metode  mroduksi ( mode of production), kekuatan produksi (force of production) dan hubungan produksi ( relation of production). Mode produksi diartikan dengan lembaga lembaga dan cara cara tertentu yang digunakan oleh suatu masyarakat untuk menghasilkan dan distribusi sarana sarana guna melangsungkan dan mempertahankan. Contoh perbudakan, peodalisme dan kapitalisme yang ada dimasyarakat barat ( surbakti, 2000).
Kekuatan produksi diartikan dengan meliputi alat produksi dan sarana produksi. Alat produksi adalah hal hal yang akan memproduksi produksi menjadi suatu produk, seperti peralatan (cangkul,bajak), mesin, buruh, ilmu pengetahuan dan teknologi.  Sementara itu sarana produksi adalah benda benda yang akan diolah oleh alat alat produksi, seperti tanah, air, udara dan energy.
Menurut Marx  perkembangan masyarakat dan hasil interaksi yang produktif  dan berulangkali antara alam dan manusia. Manusia mulai membedakan dirinya dari binatang, segera setelah ia mulai memproduksi peralatan kehidupannya. Produkri dan reproduksi kehidupan, kedua duanya merupakan urgensi, yang didiktekan kebutuhan kebutuhan biologis dari organism manusia dan yang lebih penting merupakan  sumber kreatif dari kebutuhan kebutuhan dan kemampuan kemampuan. Cara produksi sebuah masyarakat berupa; tenaga kerja produksi ( manusia mesin dan teknik) dan hubungan produksi( perbudakan, system bagi hasil, system kerajinan tangan , bekerja upahan) cara  produksi ini membentuk kaki penopang yang menyangga superstruktur politik politik, yuridis dan ideologis masyarakat. Selama kurun waktu berlangsungnya sejarah terjadinya pergantian cara produksi : dari yang model kuno, model asia, feodalistis dan  bourjois.
Ketika sampai pada tingkat perkembangan tertentu, tenaga produksi mulai terlibat konflik dengan hubungan produksi. Itu sebabnya maka, “dimulailah era revolusi social”. Perubahan landasan ekonomi disertai dengan semacam kekacauan secara cepat atau lambat pada bangunan bentuk yuridis, politik, religius, artistic dan filosofis. Pendeknya bangunan ini adalah bentuk-bentuk ideologi yang didalamnya manusia memperoleh kesadaran akan konflik tersebut dan akan menekannya sampai keujung batas (Dortier, 2004).
Dari konsep-konsep system produksi diataslah, kemudian marx mengembangkan pemikirannya dan analisisnya terhadap istilah perjuangan kelas, kaum bourjois dan kaum proletar, alienation, dan kesadaran palsu. Sampai marx beranggapan bahwa kapitalisme yang ada sekarang di Negara barat merupakan fase dari feodalisme untuk menuju pada komunisme. Komunisme merupakan fase terakhir dari dialektika materialisme yang diajukan oleh marx.

Emile Durkheim (1858-1917)
Durkheim lahir pada tahun 1858 di Epinal dari sebuah keluarga tua Yahudi yang berasal dari Alsace. Ayahnya adalah seorang Rabi sehingnga Durkheim dikirim kesekolah Rabi atau agama yang berbahasa Yahudi. Dari jurusan agama ini, Ia melanjutkan studi ke pendidikan umum, yang kemudian kesekolah tinggi atas.
Kemudian minat Durkheim pada institusi karena lembaga tersebut terkait dengan problem kontrolsosial membawanya pada bidang teori politik. Ia berusaha menunjukkan arti penting kelompok bagi kehidupan politik dan meletakkan basis teoritis bagi referentasi fungsional. Tesis pokoknya adalah bahwa pikiran social (social mind) merupakan kekuatan pengekang yang kuat pada individu. Namun demikian, efektifitasnya tergantung pada tingkat solidaritas atau kohesi yang ada dalam kelompok tersebut. Jikaikatan yang mengikat anggota lemah, control kelompok terhadap perilaku individu juga menjadi tidak efektif (Schmandt, 2002).
Dalam salah satu teorinya, Durkheimmembagi solidaritas social kedalam dua jenis, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas mekanis. Pembagian solidaritas social ini dimanifestasikan pada kehidupan masyarakat tradisional atau sederhana dan masyarakat konfleks atau modern. Dimana institusi-intitusi yang dimasyarakat itu mengontrol atau mengikat perilaku individu.
Didalam masyarakat-masyarakat konfleks ada rancangan-rancangan intitusional dispesialisasikan sehingga jenis institusi: keluarga, religious, pendidikan, politik dan ekonomis menjadi lebuh jelas dan demikian juga setiap jenis institusi menjadi kurang pokok untuk kehidupan para anggota masyarakat itu. Didalam dirinya setiap institusi juga menghasilkan spesialisasi dan karenanya menyebabkan munculnya perbedaan-perbedaan yang penting diantara individu yang menduduki peran-peran tersebut. Spesialisasi kegiatan-kegiatan yang saling tergantung ini adalah cirri bukan hanya dari proses ekonomi melainkan dari segala segi masyarakat. Misalnya sebuah masyarakat organis membutuhkan sebuah organ politis yang terspesialisasi, Negara untuk merundingkan dan memutuskan demi kepentingan seluruh masyarakat, dan didalam organ masyarakat tertentu ini ada keanekaragaman peran politis yang Saling bergantung antara lain yang paling jelas, peran menuyusun undang-undang, mengadili para pelanggar undang-undang, dan melaksanakan undang-undang (Pals, 2001).
Sehingga control social pada jenis masyarakat tradisional akan berbeda dengan control jenis masyarakat modern. Pada kebiasaannya dimasyarakat tradisoinal control social berlandaskan pada kekuasaan keluarga, suku, gereja sedangkan dimasyarakat modern kontol social berlandaskan pada regulasi Negara atau pemerintahdan organisasi-organisasi.

Vilfredo Vareto (1848-1923)       
Pareto dilahirkan di Paris pada tahun terjadinya revolusi-revolusi liberal, 1848. Ayahnya, Merquis Rafaello Pareto adalah seorang bangsawan Italia yang diusir dari Genoa ke Perancis pada tahun 1835-1836 karena mendukung Mazzini. Ketika Pareto berusia 11 tahun, keluarganya kembali ke Italia dan menetap di Turin.
Inti teori Pareto adalah bahwa manusia itu pertama-tama bertindak dan kemudian baru menemukan alasan atas tindakannya tersebut. Elemen non-logis dalam perilaku manusia merupakan factor konstan, sementara elemen logisnya merupakan factor yang tidak tetap. Elemen logis disebut sebagai residu dan elemen non logis disebut sebagai derivasi. Faktor-faktor logis dan non logis inilah yang melandasi tindakan individu dalam masyarakat.
Residu dalam manifestasi dari “insting dan sentimen meningkatnya merkuri pada thermometer merupakan perwujudan dari meningkatnya temperature.” Meskipun ia menyebut sekitar 50  residu yang berbeda dan membaginya menjadi enam kelas besar, hanya dua kelas yang relevan dengan pembahasan kita: kombinasi dan ketahanan kelompok. Kombinasi berasal dari kombinasi masalah-masalah tertentu dalam pemikiran, biasanya tanpa pengesahan logis. Ketahanan kelompok mengimplikasikan bahwa dengan semacam inertia maka adat-istiadat atau keyakinan yang mapan terikat dengan keuletan dan ketahanan yang kuat. Derivasi merupakan manifestasi permukaan dari residu atau kekuatan pokok dalam kehidupan manusia. Ia adalah ideologi di mana manusia berusaha merasionalisasikan tindakannya dan keyakinan mereka; dan dengan demikian, ia menjadi factor tidak tetap dalam perilaku manusia (Schmandt, 2002).


0 komentar