INTERAKSIONIS SIMBOLIS PERSPEKTIF : MANUSIA DAN MAKNA
MANUSIA DAN MAKNA
Interaksi simbolis merupakan aliran
sosiologi amerika yang lahir dari tradisi psikologi. Karya karya psikologi
amerika seperti wiliam james, james mark Baldwin dan jhon dewey telah
mempengaruhi sosiolog Charles H.Cooley,
yang kemudian membantu perkembangan teori psikologi dalam sosiologi amerika. Menurut dictum cooly
(1930) imajinasi yang dimiliki manusia merupakan fakta masyarakat yang solit
dan berfungsi sebagai suatu warisan realitas dunia subjektif. William Isaac
Thomas seangkatan dengan cooley, juga menekankan perlunya fakta subjektif, tetapi tidak berarti fakta
fakta objektif mesti diabaikan, walaupun dalam sejarah interaksi simbolis cooley dan Thomas
merupakan tokoh terpenting, tetapi hanya filosof George Herbert Mead, seorang
warga amerika awal abad amerika 19 dan seagkatan dengan mereka, yang sering
dianggap sesepuh paling berpengaruh dari
perspektif. Maed setuju dan mengembangkan suatu kerangka yang menekankan arti penting perilaku terbuka
(overt) atau objektif dan tertutup ( covert) atau subjektif didalam aliran
sosiologis objektif posisi mead berada
diantara subyektivisme ekstrim dari cooley, yang melihat masalah pokok
sosiologi sebagai hanya imajinasi imajinasi, dan obyektivisme ekstrim udrkheim
yang menganggap fenomena social yang kongkrit
atau fakta fakta sosialah yang tepat bagi analisa sosiologi.
Walau dalam sejarah interaksi simbolis
cooly dan Thomas merupakan tokoh terpenting, tetapi hanya pilosop George
Herbert mead, seorang warga amerika
awala abad ke 19 san seangkatan dengan mereka yang sering dianggap sebagia
sesepuh paling berpengaruh dari perspektik ini. Mead setuju dan mengen bangkan
suatu krangka yang menekankan arti penting prilaku terbuka (overt) atau objektif, dan tertutup ( covert) atau
subjektif, didalam aliran sosiologis posisi mead berada diantara mead berada
diantara subjektifisme ekstrim cooly, yang melihat masalah pokok sosiologi
sebagai hanya : imajinasi-imajinasi, obyektifisme ekstrim durkheim yang menganggap
paromonema social yang konkrit atau fakta fakta yang tepat bagi analisa
sosiologis.
Perbedaan antara interaksi simbolis dengan perspektif naturalistis terletak pada
yang disebut terakhir bisa dikatakan terlalu menekankan aspek aspek objektif
dan mengabaikan maksa subjektif sedangka
kaum interaksi simbolis mengetengahkan dimensi dimensi yang terbaik.Dari semula
kita tahu bahwa bab ini tidak ada hubungannya dengan berbagai pendekatan yang
merupakan bagian dari teori intraksionisme simbolis .khun (1964) misalnya ,
menunjukan beberapa kontribusi penting pada teori intraksionisme simbolis yang
sangat membatasi kontribusi blumer.seperti dinyatakan melltzer dan petras
(1972), kunh dan blumer merupakan wakil dua aliran intraksionisme simbolis,
yang pertama “alira lowa “, lebih positivistis dan naturalistis; sedang blumer
jelas sebagai aliran chicago yang humanistis dan interpretatif . simbol berada dalam proses
yang continue.
Prose penyampaian makna inilah yang
merupakan subject matter dari sejumlah analisa kaum interaksionis – simbolis.
Dalam interaksi orang belajar memahami simbol – simbol yang konfensoinal , dan
dalam suatu pertandingan mereka belajar menggunakannya sehingga mampu memahami
peranan actor – actor lainnya. Misalna
Seorang penyanyi, tau benar bahwa tepuk tangn para penonton merupakan
cermin rasa senang terhadap penampilannya.
Dengan menempatkan diri pada perann
para penonton itu, sang pennyayi mengetahui bahwa sebuah nyayian “ lagi “ akan
sangat dihargai . tetapi , perlu diingat bahwa sang penyanyi tidak mesti
mengulangi nyayian itu ; dia bebas mengubah interaksi dengan menginsyaratkan
agar tirai di turunkan.
Demikianlah sebenarnya interaksi, orang bebas
mengubahnya melalui saluran bertindak alternative bagi mead subjek matter
sosiologi ialah interaksi para actor yang terorganisisr dan terpola didalam
situasi situasi social. Dizaman kejayaan aliran fungsional yang memberikan
tekanan pasa kelompok social ( bukan individual) dan pada realitas objektif (
bukan subjektif), hanya helbert blumer seorang murid mead yang tetap berusaha
menghiduokan tradesi meadean ini.
INTERAKSI SIMBOLIS; PERSPEKTIF DAN
METODE :
Bagi
blumer (1969 : 2 ) interaksionisme – simbolis bertumpu pada premis
1.
manusia
bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna makna pada sesuatu itu bagi
mereka.
2.
makna
tersebut berasal dari interaksi social seseorang dengan orang lain.
3.
makna
makna tersebut disempurnakan disaat proses interaksi social berlangsung.
Makna makna tersebut berasal dari interaksi dari orang lain,
terutama dengan orang yang dianggap cukup berarti. Sebagaimana dinyatakan blumer (1969 : 4-5), bagi
seseorang makna dari sesuatu berasal dari cara cara orang lain bertindak
terhadapnya dalam kaitannya dengan sesuatu itu. Tindakan tindakan yang mereka
lakukan akan melahirkan batasan sesuatu bagi orang lain. Bila orang tua
memberikan tanggapan positif terhadap anak yang tidak ngeri melihat ular kebun
maka anak tersebut akan meneruskan perilaku demikian. Tetapi bila dia
disalahkan oleh teman bermainnya disalahkan oleh orang tua dan teman
bermainnya, maka yang berubah tak hanya perilaku tetapi makna yang dikaitkan
pada objek tersebut.
Tetapi, perlu diingat bahwa hakikat
sebagai pecinta dan pembenci ular itu tidak otomatis menginternalisir kedua
pengertian dari ular sebagai objek. Blumer (1969:5) menyatakan : Actor memilih
, memeriksa, berpikir, mengelompokkan, dan mentranformir makna dalam
hubungannya dengan situasi dimana dia ditempatkan dan arah tindakannya.
Sebenarnya, interprestasi seharusnya tidak dianggap sebagai penerepan
makna-makna yang telah di tentukan , tetapi sebagai suatu proses pembentukan
dimana makna yang dipakai dan disempurnakan sebagai instrument bagi
pengarahan dan pembentukan tindakan.
Menurut Blumer tindakan manusia bukan
di sebabkan oleh beberapa”kekuatan ular” (seperti yang di maksud oleh kaum
fungsionalis structural) tidak pulah di sebabkan oleh “kekuatan dalam” (seperti
yang di nyatakan oleh kaum reduksionis-psikologis).Blumer (1969: 80) menyanggah
individu bukan di kelilingi oleh lingkungan obyek-obyek potensial yang mem
permainkannya dan membentuk prilakunya. Gambaan yang benar ialah dia yang
membentuk obyek-obyek itu, misalnya berpakaian atau mempersiapkan diri untuk
karir profisional, individu sebenarnya sedang merancang obyek-obyek yang
berbeda, memberinya arti, menilai kesesuainanya dengan tindakan, dan mengambil
keputusan berdasarkan penilaian tersebut. Inilah yang dimaksud dengan
penafsiran atau berindak berdasarkan simbol-simbol.
Dengan demikian manusia merupakan
actor yang sadar dan refleksif, yang menyatukan obyek – obyek melalui apa yang
disebut blumer ( 1969 : 81) sebagai proses self – indication. Self indication
adalah “ proses kumunikasi yang sedang berjalan dimana individu mengetahui
sesuatu, menilainya, memberinta makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasaran
makna itu”. Proses self-indication ini terjadi dalam konteks social di mana
individu mencoba “ menganttisipasi tindakan-tindakan orang lain dan
menyesuaikan tindakannya sebagaimana dia menafsirkan tindakan itu”.
Pertimbangan yang diberikan wanita
muda terhadap undangan dari teman sekerja itu di hubungkannya dengan konteks
dimana hal itu disampaikan dan pengalamn – pengalamn sebelumnya, yang membuat
dia bisa menilai masalah dan memberinya
makna , kemudian memberikan tanggapan berdasarkan makna itu. Tindakan manusia
penuh dengan penafsiran dan pengertian. Tindakan – tindakan mana saling di
selaraskan dan menjadi apa yang disebut kaum fungsionalis sebagai struktur
social. Blumer ( 1969 : 17 ) lebih senang menyebut fenomena ini sebagai tindkan
bersama, atau “ pengorganisasian secara social tindakn – tindakan yang berbeda
dari partisipan yang berbeda pula “.
Setiap tindakan berjalan dalam bentuk prossual,
dan masing – masng saling berkaitan dengan tindakan – tindakan prosesual dari
orang lain. Bagi blumer tindakan lebih dari hanya sekedar performance tunggal
yang di uraikan dalam penjelasan “ im – pression manajement “ goffman. Orang
terlibat dalam tindakan bersama yang merpakan struktur social. Lembaga seperti
gereja, koperasi bisnis, atau keluarga hanya merupakan kolektifitas yang
terlibat dalam tindakan bersama. Tetapi lembaga – lembaga tersebut bukan
merupakan struktur – struktur yang
statis, sebab perkalin prilaku tidak perna identic ( walau mereka mungkin
serupa ) sekalipun pola – pola sudah di terapkan sedemikian rupa. Sebagai
contohnya keluarga yang terdiri dari seorang suami, seorang istri dan satu anak. Dari hari – kehari keluara
tersebut berada dalam proses kehidupan yang continue. Hubungan perkawinan
ketika anak berusia dua bulan bisa sangat berbeda dengan saat si anak berusia
tujuh tahun. Demikian juga dengan karir si suami, bisa memperoleh arti yang
sangat penting ketika ia sedang mendaki jejang orgnisasi yang juga mempengaruhi
kehidupan keluarganya .
Tidak ada defensi : suami, peranan
istri atau peranan orang tua yang sederhana. Mereka berkembang dalam konteks
struktur kekeluargaan yang tetapa berubah – ubah dan memberikan tanggapan pada
interaksi – interaksi simbolis dalam unit keluarga. Blumer ( 1969 : 19 )
menegaskan prioritas interaksi kepada struktur dengan meyatakan bahwa “ proses
social dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menghancurkan aturan –
aturan , bukan aturan – aturan yang mencptaakan dan menghancurkan kehidupan
kelompok “.
Dengan kata lain norma – norma,
seperti yang bahas oleh kaum fungsional structural , tidak menentukan prilaku
individu ; individu bertindak selaras demi menyangga norma – norma atau aturan
prilaku . kaum fungsional stuktural menekankan bahwa manusia merupakan
produk dari masing – masing
masyarakatnya ; kaum interaksi – simbolis menekankan sisi yang lain yaitu bahwa
struktur social merupakan hasil interaksi manusia.
MASYARAKAT SEBAGAI
INTRAKSI –SIMBOLIS
Blumer
(1969:84-85) tidak mendesakan perioritas
dominasi kelompok atau struktur tetapi melihat tindakan kelompok sebagai
kumpulan dari tindakan individu :”masyrakat harus dilihat sebagia terdiri dari
tindakan orang-orang ,dan kehidupan masyarakat terdiri dari tindakan –tindakan
orang itu “. Blimer melanjutkan ide ini dengan menunjukan bahwakehidupan
kelompok yang demikian merupakan respon pada situasi-situasi dimna orang
menemukan dirinya. Situasi tersebut dapat terstruktur tetapi blumer
berhati-hati menentang pengabaiaan arti penting
penafsiran sekalipun dalam lembaga-lembaga yang relative tetap. Dalam
melihat masayrakat Blumer(1969:78) menegaskan dua perbedaan kaum fungsional
structural dan intraksionis-simbolis,yaitu
1.
Dari
sudut intraksi simbolis .organisasi masayarakat manusia merupakan suatu
kerangka dimana tindakan social
berlangsung dan bukan merupakan penentu
tindakan itu.
2.
Organisasi
yang demikian dan perubahan yang terjadi
di dalamnya adalah produk dari kegiatan unit-unit yang bertindak dan tidak oleh “kekuatan-kekuatan “ yang membuat
unit-unit itu berada di luar penjelasan .
Intraksionisme-simbolis yang diketengahkan Blumer mengandung sejumlah “ root images “ atau ide-
ide dasar, yang dapat di ringkas sebagai
berikut :
1.
Masyarakat yang terdiri dari manusia yang berintraksi. Kegiatan tersebut saling
bersesuaian melalui tindakan bersama , membentuk apa yang dikenal sebagai
organisasi atau struktur social.
2.
Interaksi
terdiri dari berbagai
kegiatan manusia yang berhubngan
dengan kegiatan manusia lain.
3.
Objek
–objek , tidak mempunyai makna yang
intrinsik, makna lebih merupakan produk intraksi-simbolis .Objek –objek dapat
diklasifikasikan kedalam tiga kategori yang luas : (a) objek fisik ,
seperti meja , tanaman , atau mobil ;
(b) objek social seperti ibu, guru ,
menteri atau teman ; dan (c) objek abstrak seperti nilai-nilai, hak dan peraturan.
4.
Manusia tidak hanya mengenal objek eksternal , mereka dapat melihat dirinya sebagai objek
5.
Tindakan manusia adalah tindakan interpretative yang
dibuat oleh manusia itu sendiri.
6.
Tindakan tersebut
saling berkaitan dan
disesuiakan oleh anggota-anggota kelompok
,hal ini disebut sebagai tindakan
bersama yang dibatasi sebagai; organisasi social dari perilaku
tindakan-tindakan berbagai manusia. Sebagian besar tindakan bersama tersebut berulang-ulang dan stabil,
melahirkan apayang disebut para sosilogi sebagai “kebudayaan “ dan “aturan
social”
PRINSIP-PRINSIP METODOLOGIS EMPIRIS
Blumer menyadari kelemahan-kelemahan
metodologis rumusan filsafat psikologi –
sosial Mead. Akan tetapi filsafat
telah mengetengahkan dasar-dasar penting
perspektif ini , bahwa “ dunia empirislah yang harus tetp sebagai
masalah inti. ( blumer, 1969: 22) metodologi atau prosedur illmiah mendorong
para sosiolog memulai perburuan teori yang ilmiah . akan tetapi blumer kritis
terhap kecendrungan sociologi kontenporer, yang menyamakan metodelogi dengan
teknin-teknis statistika yang maju , karena analaisa hanya melupakan salah satu
aspek dari metodologi. Kemudian dia ( 1969 : 28 ) mempertanyakan penyebaran “
dan keyakinan yang sangat dalam serta suda meluas dalam ilmu – ilmu social dan
fisikologis yang sangat percaya kepada apa yang biasanya dia anggap sebagai
protocol prosedur ilmiah yag benar , karena itu dengan sendirinya akan
memberikan hasil yang falid bagi duni empiris” .
Blumer juga bersifat kritis terhadap
ketergantungan ilmu social terhadap model – model teoritis yang di terim begtu
saja dan berbagai teknis penelitian yang sangat sofhisticated atau canggih
bukanya langsung mndesak kembali kepada dunia empiris . dengan tegas dia (1969
:34 ) menyatakan jalan kepada kesahihan demikian tidak terletak pada manipulasi
metode penelitian, ia berada dalam pengujian dunia social empiris.
Bagi blumer , dunia social empiris
terdiri dari manusia berseta berbagai kegitan kehidupan sehari-hari .
pengtahuan perilaku yang intim itu hanya dapat diperoleh melalui observasi tangan pertama dan patisipasi dalam kelompok
yang diteliti; ia tidak dapat diperoleh
orang luar yang kurang familiar dan intim dalam mengenal kelompok. Metode
intraksi-simbolis merupakan pengkajian
fenomena social secara langsung ,
pendekatan yang mendasar untuk
mempelajari secara ilmiah kehidupan kelompok dan tingkah laku manusia. Blumer mengetengahkan dua model pengamatan (inquiry)
yang memungkinkan pengkajian fenomena social
yaitu :
1.
Secara langsung :penjelajahan dan pemeriksaan .
penjelajahan (exploracation )merupakan metode fleksibel yang memberi peluang bagi para peneliti “ bergerak ke pemahaman yang lebih tepat
mengenai bagaimana masalah seseorng
harus dikemukakan , mempelajari data apa yang tepat , mengembangkan
ide-ide mengenai jalur-jalur hubungan bagaimana
yang signifikan dan mengembangkan peralatan konseptual seseoranag dari
sudut apa yang sdang di pelajarinya mengenai dunia kehidupan “. Tujuan utamanya
adalah memperoleh gambaran lebih jelas mengenai apa yanga sedang terjadi dalam
lapangan subjekn penelitian , dengan sikap
yang selalu aspada atau uregensi
menguji dan memperbaiki observasi-observai
2.
Pemeriksaan (inspection) lewat metod ini para peneliti
memeriksa konsep-kansep tersebut
dari sudut pembuktian empiris . Blumer membandingkan pemeriksaan dengan
penanganan objek-objek fisik yang tidak diketahui sebelumnya “kita dapat
mengambil , melihat dan mengamati , membolak-balik , melihat lagi dari berbagai
sudut, mempertanyakan apa sebenarnya obyek itu, kemudian kembali lagi melihatnya
dari sudut permasalahan kita dengan berbagai cara percobaan dan pengujian”.
EVALUASI
KRITIK TERHADAP INTRAKSIONISME HERBERT
BLUMER
Dalam
sosiologi kontemporer intraksi simbolis sudah dianggap sebagai “ oposisi yang
setia” (mullins, 1973:75-104). Walau mengakui eksistensi prilaku yang berpola ,
intraksionisme simbolis terus
mempertanyakan percabangannya dalam konsep-konsep fungsional structural,
sepertii struktur, norma dan status .Blumer juga kritis terhadap metodoligi
sosiologi yang telah digabungkan dengan pendekan kaum fungionalis, suatau
metodologi yang lebih condong pada kuantifikasi ketimbang pada pehamaman .
intrksionisme simbolis lebih menekankan proses interpretataif intraksi
ketimbang produk dari kelompok-kelompok social .
Manusia bukan hanya sebagai organisme yang memberikan
tanggapan , tetapi juga sebagai organisme yng bertindak, yaitu” organisme yang
harus dibentuk saluran bertindak atas dasar apa yang dipertimbangkannya, dari
pada hanya memberikan tanggapan pada beberapa fktor yang terdapat dalam
organisasi. Dalam membahsas fungsionalisme structural, kita tau bahwa parsons
melihat status-peranan sebgai unit dasar system social. Status merupakan posisi
dalam system, sedang peranan dilihat sebagai prilaku yang diharapkan dan sesuai
dengan suatu posisi tertentu. Baik dalam
teori maupun analisa, kaum fungsionalis structural cenderung menyamakan status dan peranan , sedangkan
kaum interaksionisme simbolis melihat perbedaan penting di antara kedua konsep
itu. Blumer melihat status social sebagai objek social dimana pengertian
dikaitkan; penafsiran terhadap status ini mempengaruhi pelaksanaan peranan atau
prilaku. Misalnya seorang wanita muda melalui interaksi dengan ibunya sendiri,
belajar bahwa keibuaan merupakan status yang dicita-citaka dalam hidup, atau
dia dapat belajar bahwa keibuan secara pribadi tidak perlu di penuhi dalam cara
yang sama.
Konsep
masyarakat menurut blumer, sebagimana yang kita lihat , berasal dari modelnya
tentang manusia yang bertindak sukarela. Masyarakat manusia adalah interaksi –
simboli , dari pada sebagai suatu struktur yang dikongkritkan atau otonom.
Blumer (1969:84) menentang kecndrungan yang ada dalam sosiologi yaitu dengan
cara menolak untuk menganggap masyarakat sebagai keseluruhan yang eksis dalam
suatu struktur yang unggul. Dengan kata lain, menurut blumer masyarakat perlu
dilihat sebagai “manusia yang bertindak” ketimbng sebagai sumber kekuatan yang
bertindak ketimbang sebagai sumber kekuatan yang brtindak terhadap manusia itu.
Masyarakat merupakan suatu kerangka dimana manusia terlibat untk bertindak.
Konsepsi
manusia dan masyarakat telah mendorong blumer untuk mencari metodologi yang tepat bagi analisa
inrtaksionis –simbolis. Dia menekankan introspeksi simpatik yang paling baik
dilaksanakan dengan menggunakan life histories , studi kasus, catatan harian,
susrat-surat pribadi, wawancara tidak langsung dan obsevasi partisipan, sebagai
trknik-teknik yang tepat dalam mengumpulkan data sosologis . Blumer yang jells cenderung
kearah humanistis , suatu sudut interpretative dari continum humanistis-naturalistis , menegaskan bahwa
manusia harus dipelajari sebagai pokok
soal yang berdeda dan bahwa studi ini tidak bias berawal dari ilmu-ilmu alam.
Cap
yang diberikan pada blumer sebagai intraksionisme simbolis bukan tanpa kritik.
Inti teori blumer bertumpu pada konsep diri (self), tetapi konsep ini belum
memperboleh perlakuan yang semestinya . stryker (1973:14-15) , misalnya ,
menegaskan bahwa paras sosiolog dalam tradisi blumer terlalu cemas akan paham
kesatuan, self yang tidak terdeferensiasi
ketimbang diri sebagai kekuatan yang kompleks . dari itu mungkin dapat
dibagi ke dalam bagan-bagian yang tersusun secra tirarkis . pendekatan untuk mempelajari diri sesuai
dengan kritik itu , akan melahirkan pendekatan yang lebih empiris , ketimbang
perumusan teoritis .
Masalah-masalah
konseptualisasi blumer telah merasuki
pandangannya tentang masyarakat . blumer mencoba menghindari percabangan dari
beberapa ahli-ahli teori yang telah kita bahas, pendekatan blumer paling dekat
dengan pendekatan bekas mahasiswanya .Erving goffman.blumer(1972:52-53)
menyanjung “analisa prespektif” kehidupan sehari-hari dan tempat umum dari goffman yang diabikan dalam sosiologi .dia
juga menguji prosedur penelitian bekas
mahasiswanya itu. Dengan semangat seorang pelopor ilmih dia siap melakukan
penyelidikan yang baru dengan memaksakan penyelidikannya kedalam ketentuan yang
ketat yang sering dituntut dalam penelitian ilmu social kontenporer . akan tetapi
kepentingannya ialah untuk menguraikan dunia empiris dari pada menghormati beberapa
skema yang dibenarkan untuk itu.
Melalui penggunaan pelihan yang menjeleskan pengalaman manusia dia mengambil
jalan pintas dalam pengamatan-pengamatan penting yang tidak ditundukan oleh
sejumlah besar penemuan yang telah ditentukan (blumer 1972:53) . konsep-konsep khususnya yang
berhubungan dengan masyarakat.menurut Zietlin(1972:271) pendekatan blumer telah
menghasilkan pandangan masyarakat yang “
tak lebih dari pada pluralitas-diri yang terpilh-pilah berintraksi dalam situasi-situasi tanpa
struktur”. Pendekatan blumer tehadap masyarakat membuat topic seperti
statifikasi , konflik antar kelompok, atau birokrasi sulit- jika tidak mungkin
untuk ditangani .
Dasar-dasar
metodologis pendekatan blumer pada teori
kaum inttraksionis simbolis juga telah ditantang oleh kaum intraksi simbolis lainnya(lihat misalnya , Kuhn 1964).
Pendektan humanistis blumer pada intraksi simbolis dikenal sebagai aliran
Chicago(Chicago school), sedangkan pendekatan positfitas atau naturalistis dari
manford Kuhn dikenal sebagai aliran lowa
ini menekankan kebersamaan (communalities )dengan disiplinilmiah lain dan
menggunakan teknik-teknik rencana penelitian yang lebih standar. Intraksionisme
–simbolis Mead dan Blumer tampak berlawanan dengan pendektan model ilmu
alam. Sesengguhnya setiap moment kearah fositivisme sudah membuat ahli-ahli teori
jauh dari apa yang disebut mead dan blumer sebagai inti intraksi-simbolis yaitu
hakikat tindakan social yang
interprestatif dan dinamis. Dalam tradis mead dan blumer ,
intraksionisme-simbolis dilihat sebagai “ oposisi yang setia “
terhadaf fungsinalisme structural , tetapi sebenarnya sudah lebih dari
itu. Intrkasionisme ini merupakan aliran humanistis yang kuat menentang tekanan
neo-positvitas atau tekanan ilmiah yang
sangat berakar dalam teori sosiologi kontenporer .
RINGKASAN
Interaksinalisme
simbolis merupakan sisi lain dari pandangan yang melihat individu sebagai
produk yang di tentukan oleh masyarakat. Konseptualisasi ”diri” dianggap sedang
mengalami proses dan tidak benar-benar menyesuaikan diri dengan apa yang
dicitakan, yaitu manusia “ kaum fungsionalis” yang telalu disosialisir. Orang
merupakan makna subjektif pada dunia obyek mereka, dari pada hanya menerima
pafsiran sealitas obyektif yang telah dirancang sebelumnya. Kemudian struktur
social dilihat sebagai produk interaksi
bersama para anggota masyarakat, dari
pada sebagai suatu kenyataan dalam dirinya, seperti yang dipostulatka oleh
emlile durkhein dan kaum fungsionals yang dewasa ini mruakan para pengikutnya.
Kelompok adalah orang – orang yang terlibat dalam interaksi,
tindakan-tindakan bersama yang mampu
membentuk struktur atau lembaga itu hanya mungkin disebabkan oleh interaksi
simbolis, yang dalam menyampaikan makna menggunakan isyarat dan bahasa. Melalui
symbol-simbol yang berarti, symbol-simbol yang telah memilii makna, obyek –
obyek yang di batasi dan ditafsirkan melalui proses interaksi makna-makna
tersebut disampaikan pada pihak lain .
Premis-premis
teoritas interaksionisme –simbolis blumer ini membimbingnya dalam menetapkan garis
besar metodologis penelitian. Tindakan social harus dilihat sebagai suatu
proses dan sehubungan dengan bagaman tindakan itu terbentuk. Karna itu
organisasi atau struktur social dlihat sebgai tindakan organisasi,
interaksionisme simbolis mencoba menjelaskan bagaimana cara para partisipan
membatasi, menafsirkan,dan menangkap situasi-situasi yng kemudian memperlancar
pembentukan struktur atau perbahannya .
dalam penelitian empiris hakikat prosesual pembentukan “ diri “ da struktur
social tidak bleh diabaykan.
Walau
blumer berusaha membuat pernyataan-pernyataan metodologis yang berlandas pada
teori interaksionisme sombolis, tetapi dalam penelitian empiris konsep seperti
itu tetap kabur dan sulit sijabarkan. Sebagai anggota disiplin yang menekankan
pentingnya pengujian dan verifikasi
teori , banyak para sosiolog ( termasuk anggota interaksionisme simbilos aliran
( lowa) menganggap rumusan teori dan metode interaksinisme simbolis blumer ini
mustahil diterapkn dalam penelitian. Masadepan interaksionisme simbolis sebagai
suatu perspektif sosiologis tetap kabur. Beberapa ahli teori interaksionisme
yang terdahulu sudah berpindah ke perspektif etnometodoligis – suatu teori yang
banyak memiliki premis-premis interaksionisme simbolis tetapi tetap mencoba
menggabungkan teori ini dengan penelitian empiris.








0 komentar